Postingan kali ini saya akan membahas
mengenai etika dalam Telematika. Selain dalam kehidupan nyata, etika
juga perlu diterapkan dalam dunia telematika. Dalam dunia telematika,
tidak lepas dari komunikasi, dan dalam komunikasi tersebut ada hal-hal
yang perlu di terapkan untuk menjaga komunikasi agar berjalan dengan
baik, yaitu etika. Saya ambil contoh dalam dunia sosial media.
Kebanyakan pengguna sosial media melupakan etika-etika yag perlu dijaga
dalam bersosial media.
Saat ini sosial media yang sangat poppuler adalah Twitter dan
Facebook. Hampir semua masyarakat, khususnya masyarakat ibukota,
semuanya memiliki akun twitter. Mulai dari anak gaul ibukota, anak-anak
sekolah yang mulai mengenal pergaulan bahkan orang tua yang sangat sibuk
dengan pekerjaannya. Tidak salah memiliki akun tersebut, hanya saja
kita perlu untuk mengetahui etika dalam bersosial media juga kan?. Ada
dampak positif dan negatifnya.Dampak positif yang sudah jelas adalah kita bisa lebih dekat dengan orang-orang yang berjarak jauh dari kita. “Mendekatkan yang jauh”. Contohnya saya sendiri, teman-teman saya saat ini berkuliah di berbagai universitas yang tersebar di pulau Jawa. Ada teman SMP, SMA dan teman-teman lain yang dulu sering kita temui. Tapi, seiring waktu kami terpisah satu sama lain. Tidak seperti dulu yang bisa bertemu setiap hari. Dengan adanya twitter atau facebook, saya merasa mereka masih di sekitar saya. Kami masih bisa ngobrol, ngegosip bahkan bercanda layaknya seperti ketemu langsung.
Dampak negatif dari sosial media adalah kita menjadi tergantung dengan sosial media tersebut. Kita semakin sibuk dengannya dan melupakan kehidupan nyata kita. Kita justru lebih suka ngobrol dengan teman lewat twitter, padahal teman kita dia di samping kita. “Menjauhkan yang dekat”. Ada semacam syndrom yang membuat seseorang lebih menyukai kehidupan dunia maya.
Dan etika dalam sosial media. Kenapa twitter justru malah jadi ajang mengumpat orang?. Saya heran jika melihat timeline yang berisi umpatan-umpatan terhadap orang yang tidak jelas. Kenapa tidak berbicara langsung? Kenapa mesti lewat twiiter? Kenapa mesti lewat sindiran-sindiran?. Orang yang tidak tahu seperti saya kadang malah berfikir : “Yang dimaksud dia jangan-jangan gue?”. Bukankah lebih manis ya jika ada timeline yang bagus, seperti quote-quote inspirasi dan motivasi?.
Timelinenya berisi pengandaian. Saya juga tidak suka dengan hal ini. Menurut agama saya, orang yang suka berandai-andai itu adalah orang yang tidak bersyukur terhadap pemberian Allah. Pengandaian yang memotivasi seperti : Kalo aja gue pinter. Itu masih termasuk normal, kalo mau pinter ya harus rajin belajar. Itu berdampak positif ketika orang tersebut langsung rajin belajar setelah menerbitkan TL tersebut. Tapi, pengandaian seperti : Kalo aja gue terlahir jadi orang kaya
Berdoa di twitter?. Untuk hal ini, mungkin kebanyakan orang tidak setuju dengan pemikian saya. Namun, saya hanya ingin mengungkapkan pemikiran saya. Kenapa sih berdoa mesti di timeline? Mesti di status facebook?. Apa ketika sholat lupa baca doa?. Untuk hal yang satu ini saya benar-benar spechless.
Itu mungkin sedikit etika yang saya bahas. Masih banyak etika dalam dunia telematika secara umum. Bahkan jika kita bekerja yang bergelut dalam bidang telematika ada “Kode Etik Profesi Telematika Indonesia” yang harus kita patuhi.






